Cari data pendaftaran lengkap untuk domain, alamat IP, atau nomor AS apa pun. Lihat registrar, tanggal penting, server nama, DNSSEC dan kode status dalam bahasa yang jelas, dengan data WHOIS atau RDAP mentah satu klik saja. Menggunakan standar modern RDAP dengan cadangan WHOIS untuk domain negara. Tanpa daftar.
WHOIS lookup adalah proses mencari catatan registrasi sebuah nama domain, alamat IP, atau nomor AS untuk mengetahui siapa registrar-nya, kapan domain didaftarkan, kapan kedaluwarsa, name server apa yang dipakai, dan status hukum domain tersebut. Masalahnya, sejak 2018 sebagian besar data pemilik disembunyikan, sehingga banyak orang mengecek WHOIS lalu bingung karena kolom nama justru kosong. Alat cek WHOIS domain dari ToolsPivot menampilkan seluruh data yang memang tersedia secara terstruktur, menjelaskan bagian yang disembunyikan, dan memberi jalur kontak alternatif yang masih sah digunakan.
Alat ini mengambil catatan registrasi resmi sebuah domain, IP, atau nomor AS lalu menyajikannya sebagai laporan bersektor yang mudah dibaca. Kueri dijalankan di sisi server memakai protokol standar, dengan RDAP sebagai sumber utama dan WHOIS port 43 sebagai cadangan. Hasilnya mencakup registrar, tanggal registrasi, pembaruan terakhir, tanggal kedaluwarsa dengan hitung mundur, name server, status DNSSEC, kode status domain, serta kontak registrant, administratif, dan teknis. Catatan mentah tetap tersedia bila Anda membutuhkan teks asli. ToolsPivot tidak meminta pendaftaran akun maupun kunci API untuk fungsi apa pun di halaman ini. Untuk memetakan konfigurasi DNS lebih jauh setelah melihat name server, Anda bisa melanjutkan ke pencarian DNS.
Pengguna paling aktif alat ini adalah pemilik bisnis online yang ingin memverifikasi kredibilitas mitra sebelum transaksi, praktisi SEO yang menilai profil domain sebelum membeli, dan tim IT yang menelusuri sumber gangguan jaringan. Pelaku UMKM di Jakarta, Bandung, dan Surabaya memakainya untuk memeriksa toko atau supplier yang mereka temukan di luar marketplace resmi. Konsultan hukum dan tim brand protection menggunakannya untuk mendokumentasikan domain yang menyalahgunakan merek dagang.
Masalah utama pengguna Indonesia bukan kesulitan mengakses WHOIS, melainkan salah menafsirkan hasilnya. Banyak panduan lokal masih menjanjikan bahwa nama pemilik akan muncul, padahal untuk domain generik seperti .com dan .net data itu memang sengaja diredaksi. Alat ini membalik pendekatan tersebut: setiap bagian yang tidak tampil dijelaskan alasannya, dan Anda diarahkan ke kontak penyalahgunaan registrar atau formulir kontak registrant yang tetap dapat diandalkan.
Waktu terbaik memakai cek WHOIS adalah sebelum Anda mengeluarkan uang, mengirim data, atau menandatangani perjanjian yang melibatkan sebuah domain. Nilainya paling besar saat Anda berhadapan dengan pihak yang belum pernah Anda temui dan hanya punya alamat situs sebagai titik awal verifikasi. Berikut skenario yang paling sering terjadi.
Alat ini kurang berguna bila Anda hanya ingin tahu apakah sebuah situs aman dikunjungi saat ini, karena catatan registrasi tidak mencerminkan konten atau reputasi terkini. Untuk kebutuhan tersebut, pemeriksa keamanan situs memberi sinyal yang lebih relevan.
Konteks: Pemilik toko fesyen di Bandung menemukan supplier grosir yang hanya beroperasi lewat situs sendiri dan WhatsApp.
Hasil: Domain ternyata berumur tiga minggu, sehingga pemilik toko meminta pembayaran bertahap alih alih transfer penuh di muka. Untuk memverifikasi alamat email supplier secara terpisah, ia menggunakan validator email.
Konteks: Seorang konsultan SEO di Jakarta mempertimbangkan membeli domain kedaluwarsa untuk proyek klien.
Hasil: Konsultan menemukan domain pernah dipakai jaringan situs yang berbagi blok IP sama, terlihat lewat pemeriksa IP kelas C, lalu membatalkan pembelian.
Konteks: Bank digital menerima laporan nasabah tentang halaman login palsu yang meniru situs resmi mereka.
Hasil: Laporan dikirim ke kontak penyalahgunaan registrar beserta bukti waktu, dan domain dinonaktifkan dalam hitungan hari.
Konteks: Agensi di Surabaya mengambil alih pengelolaan sebelas domain milik klien lama tanpa dokumentasi lengkap.
Hasil: Dua domain ternyata tinggal berjarak tiga minggu dari kedaluwarsa dan langsung diperpanjang sebelum masa tenggang dimulai.
Konteks: Sebuah brand kosmetik lokal menemukan domain yang mirip namanya menjual produk palsu.
Hasil: Berkas keberatan lengkap disusun dalam satu hari, dan pemetaan tautan lewat pemeriksa backlink menunjukkan domain tiruan juga meniru struktur tautan internal.
RDAP atau Registration Data Access Protocol adalah pengganti resmi WHOIS yang mengembalikan data terstruktur dalam format JSON, bukan teks bebas. ICANN mewajibkan registri dan registrar menyediakan RDAP sejak 2019, lalu mencabut kewajiban menjalankan WHOIS port 43 untuk domain generik pada awal 2025. Artinya, panduan lama yang menyuruh Anda mengetik perintah whois di terminal akan semakin sering gagal untuk .com dan .org. Perbedaan praktisnya cukup besar bagi pengguna biasa.
Bagi Anda yang perlu memeriksa detail teknis lain pada situs yang sama, cek header HTTP melengkapi gambaran dari sisi server.
Kode status domain adalah label standar EPP yang menjelaskan tindakan apa yang sedang diizinkan atau dilarang pada sebuah domain. Kode berawalan client dipasang oleh registrar, sedangkan kode berawalan server dipasang oleh registri dan biasanya lebih serius. Memahami kode ini menghemat waktu ketika transfer domain gagal tanpa pesan kesalahan yang jelas.
Data pemilik domain disembunyikan karena kewajiban perlindungan data pribadi, bukan karena alat pencarian gagal bekerja. Sejak GDPR berlaku pada Mei 2018, sebagian besar catatan domain generik meredaksi nama, alamat, telepon, dan email pribadi registrant. PANDI sebagai registri .ID juga memperbarui kebijakan WHOIS-nya pada periode yang sama, dan di Indonesia arah ini diperkuat oleh UU Perlindungan Data Pribadi.
Yang tetap publik adalah registrar beserta nomor IANA-nya, seluruh tanggal, name server, kode status, status DNSSEC, dan kontak penyalahgunaan registrar. Kombinasi ini sudah cukup untuk sebagian besar kebutuhan verifikasi, karena umur domain dan riwayat status sering lebih informatif daripada nama yang bisa saja diisi asal. Bila Anda perlu menghubungi pemilik, gunakan kontak penyalahgunaan atau formulir kontak registrant yang disediakan registrar.
WHOIS lookup adalah pencarian catatan registrasi sebuah domain, alamat IP, atau nomor AS. Fungsinya menampilkan registrar, tanggal registrasi dan kedaluwarsa, name server, status DNSSEC, kode status, serta kontak yang tersedia. Data ini dipakai untuk verifikasi, riset domain, dan penelusuran masalah jaringan.
Nama pemilik diredaksi karena aturan perlindungan data pribadi, terutama GDPR sejak 2018. Ini adalah desain sistem, bukan kegagalan alat. Registrar, tanggal, name server, dan kontak penyalahgunaan tetap ditampilkan penuh.
Alat ini gratis sepenuhnya dan tidak memerlukan akun, kunci API, atau langganan. Mode massal juga tersedia tanpa biaya tambahan. ToolsPivot menjalankan seluruh kueri di sisi server memakai protokol publik standar.
RDAP mengembalikan data terstruktur dalam format JSON, sedangkan WHOIS mengembalikan teks bebas tanpa format baku. RDAP adalah standar resmi pengganti WHOIS dan sudah diwajibkan ICANN sejak 2019. Alat ini memakai RDAP lebih dulu dan hanya beralih ke WHOIS bila registri belum mendukungnya.
Gunakan kontak penyalahgunaan registrar yang selalu ditampilkan pada hasil pencarian. Banyak registrar juga menyediakan formulir kontak registrant yang meneruskan pesan Anda tanpa membuka identitas pemilik. Untuk kepentingan hukum, keberatan resmi dapat diajukan melalui registrar terkait.
Ya, domain .id dan turunannya dapat diperiksa melalui jalur WHOIS yang otoritatif untuk akhiran tersebut. Perlu dicatat bahwa PANDI membatasi data yang ditampilkan publik sejak 2018, sehingga sebagian kolom kontak mungkin kosong. Tanggal, status, dan name server tetap tersedia.
Perubahan biasanya muncul dalam hitungan menit hingga beberapa jam tergantung registri. Hasil pada alat ini juga disimpan dalam cache selama satu jam untuk menjaga kecepatan dan batas laju. Catatan yang ditampilkan adalah potret data, bukan sumber otoritatif langsung.
Bisa, dan kueri otomatis diarahkan ke registri regional yang tepat seperti APNIC untuk kawasan Asia Pasifik. Hasilnya mencakup nama jaringan, rentang alamat dan CIDR, organisasi pemilik, negara, tanggal alokasi, serta kontak penyalahgunaan. Informasi ini berguna saat menelusuri sumber lalu lintas mencurigakan.
Kode itu berarti registrar mengunci domain agar tidak dapat ditransfer ke registrar lain. Kunci ini umumnya aktif secara bawaan sebagai perlindungan dan dapat Anda buka sendiri dari panel registrar. Semua kode status pada hasil pencarian dilengkapi penjelasan singkat.
Pencarian dijalankan di server dan tidak dicatat, disimpan, maupun dibagikan ke pihak lain. Hanya hasil kueri yang disimpan sementara dalam cache selama satu jam, tanpa dikaitkan dengan identitas pengguna. Jika Anda sedang menyusun kebijakan privasi untuk situs sendiri, generator kebijakan privasi dapat membantu.
Setiap registri kode negara punya aturan tampilan dan bahasa sendiri. DENIC untuk .de membatasi data kontak secara ketat, sedangkan JPRS untuk .jp menampilkan bahasa Jepang jika versi Inggris tidak diminta. Alat ini menerapkan penyesuaian tersebut secara otomatis.
Ya, mode massal menerima beberapa entri sekaligus dengan format satu baris per entri. Setiap entri menghasilkan kartu laporan terpisah yang bisa dibandingkan berdampingan. Ini praktis untuk audit portofolio domain, dan sebelum migrasi Anda bisa memverifikasi penyedia tiap domain lewat pengecek hosting.